asd
Monday, July 22, 2024
More

    Karya Bermutu atau Punya ISBN Dulu?

    SELAIN kelas menulis dengan tujuan jangka pendek untuk melahirkan buku antologi, forum ajar dengan iming-iming international standard book number (ISBN) bagi pesertanya juga bermunculan. Yang lebih menggiurkan, bagi aparatur sipil negara (ASN) terkhusus guru, ISBN juga bisa menjadi cara untuk menabung angka kredit (AK).

    Penulis Sunlie Thomas Alexander mengkritisi kelas menulis yang menjadikan ISBN sebagai daya tarik utama. Menurut dia, kemampuan menulis tidak berhubungan dengan ISBN. ISBN hanyalah penomoran yang diterbitkan perpustakaan nasional sebagai tanda bahwa sebuah buku terdaftar secara resmi.

    ’’Punya ISBN tidak menjamin kualitas suatu penerbit. Apalagi kualitas sebuah buku kan? Aku juga punya penerbit yang setiap saat mengajukan permohonan ISBN kok. ISBN itu gratis, nggak bayar,’’ bebernya kepada Jawa Pos

    ISBN, lanjut Sunlie, mudah didapat. Asalkan penerbit tercatat di notaris, entah sebagai CV, PT, atau yayasan. Penerbit juga harus terdaftar di perpustakaan nasional. Setiap hendak menerbitkan buku, penerbit tinggal mengajukan permohonan nomor baru secara daring. Dalam tiga hari, ISBN terbit.

    Penerima penghargaan sastra kategori esai/kritik sastra dari Badan Bahasa pada 2020 itu menganggap kelas menulis dengan iming-iming ISBN bertentangan dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. ’’Buat apa yang gitu-gituan? Apa bakal membuat guru atau dosen yang punya buku ber-ISBN jadi sosok yang lebih teruji kemampuannya di bidang akademik atau menulis? Kan tidak,’’ ungkapnya.

    Kelas menulis dengan tim pengajar yang bagus, menurut Sunlie, belum tentu melahirkan penulis-penulis baru yang berkualitas. Semuanya bergantung pada kemampuan para peserta kelas menulis dalam menerapkan ilmu yang mereka dapatkan. Belajar menulis, tegasnya, bukan proses yang instan.

    Sastrawan 44 tahun itu berpesan kepada publik agar tidak asal bergabung dalam kelas-kelas menulis yang sekarang banyak bertebaran. Kenali benar-benar tim pengajar yang akan menjadi mentor selama kelas berlangsung. Sebab, ada banyak pula ’’penulis” yang memanfaatkan tren kelas menulis dengan asal membuka forum berbayar.

    ’’Konsumen saja yang mesti cerdas. Yang betul-betul punya nama, aku kira akan malu jualan ISBN,’’ tegas pria kelahiran Belinyu tersebut.

    Di sisi lain, Abdul Muis merasa beruntung mengikuti kelas menulis yang menawarkan ISBN sebagai salah satu manfaat. ’’Lumayan dapat 3 AK pada bagian karya inovatif,’’ ujar guru SMAN 1 Yosowilangun, Lumajang, tersebut.

    Kendati demikian, Abdul mengakui bahwa kelas menulis tidak menjamin para pesertanya semakin meminati literasi. Khususnya dunia tulis-menulis. Namun, setidaknya ada semangat yang tumbuh di kalangan guru ASN untuk ikut andil dalam mengembangkan literasi.

    Ibarat orang yang belajar naik sepeda, awalnya tidak kepikiran akan ke mana. Fokus pertama adalah bagaimana agar bisa naik sepeda dan mahir mengendarainya. ’’Setelah mahir, barulah berpikir tentang tujuan,’’ kata Abdul.

    tahun itu berpesan kepada publik agar tidak asal bergabung dalam kelas-kelas menulis yang sekarang banyak bertebaran. Kenali benar-benar tim pengajar yang akan menjadi mentor selama kelas berlangsung. Sebab, ada banyak pula ’’penulis” yang memanfaatkan tren kelas menulis dengan asal membuka forum berbayar.

    Other Articles

    spot_img

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    spot_imgspot_img